Ibu-ibu pejabat yang saya hormati…
lebaran tahun kemaren bukan tahun ini
sampeyan sampeyan sibuk dg konde, kebaya dan sasakannya
kami yang sudah antre untuk sowan sama Pak Boss terpaksa harus ikhlas nunggu sampeyan selesai dandan
lebaran tahun kemaren juga, bukan tahun ini
sampeyan sudah bikin malu kami
selalu dengan alasan Pak Boss
nasi dengan lauk lengkap musti kami kembalikan rapi di tempat semula
meski berakhir dengan muka merah krn malu di wajah cantikmu
karena kau pikir kami asal makan dan belum salaman sama Pak Boss
tapi jujur sempet keki juga kami krn ulahmu
Belum sampe lebaran tahun ini
Lagi2 dengan alasan Pak Boss
aku musti membungkam mulut anakku
karena pengajian itu di rumah Pak Boss
apakah sebuas itu-kah Pak Boss-ku, Pak Boss-mu???
Masih di pengajian…beda setting
bukan di rumah Pak Boss
tapi kenapa “kali ini” anak seorang teman
musti dipaksa diam kayak kurang gizi dan vitamin
Dan di lebaran kali ini
tak kutemukan sosokmu
kupikir mudik
ternyata…
kau sibuk dengan opor, rendang dan lontong
Ah Ibu…
habis kata2-ku untuk mengingatkanmu
Kepada “TIDAK” semua Ibu-ibu Pejabat
sebenarnya yang jadi pejabat…Bapak atau Ibu sih???
Syawal, 1427…
jarak yang dipaksakan!